Senin, 15 Juni 2009

Cerpen

Dahulu kala, terkisahlah kehidupan seorang gadis kecil berasal dari sebuah desa yang sangat terpencil dan di desa terpencil itulah si gadis kecil itu dijuluki tukang ngutil..hhoo
***
"Hei gadis mungil.. Kamu Lagi ngapain?" Sebuah suara serak² basah mengagetkan Sang Gadis Kecil yang sedang duduk kedinginan menggigil [megso] di atas kursi kecil yang ada di taman, persis di sebelah kanan pohon bunga kanthil.
Sang Gadis Kecil terkaget hingga hampir menjathukan tubuhnya yang kecil dari atas kursi kecil.
"Haaa?? Aku Lagi merenung.. Kenapa aku dijauhi orang hanya karna aku pengutil?" Sang Gadis Kecil menjawab pertanyaan dari seorang besar yang mirip dengan Buto Cakil.
"Kamu juga aneH ngiL.. Eh, tunggu! Sepertinya Gadis Mungil terLaLu baik untuk menyebutmu.. Bagaimana kalau aku memanggiLmu Gadis Kecil saja? Hhaa.. Lucu.." Seorang yang mirip Buto Cakil itu tertawa terbahak² membuat Sang Gadis Kecil semakin sedih.
"Ah kamu gitu! Gag tau apa kalo aku bener² Lagi bingung?" Gadis Kecil mulai beranjak dari kursi kecil yang ada tepat di sebelah kanan pohon bunga kanthil.
Seorang yang mirip dengan Buto Cakil itu hanya terdiam.
"Kadang aku berfikir, aku ingin bunuh diri saja dengan minum obat dosis tinggi berbentuk pil." Sang Gadis Kecil kembali mengeluhkan nasibnya.
"Jangan Cil, kalo saran aku, gimana kalo kamu pergi aja ngubah nasib kamu, ngubah sifat kamu yang suka ngutil itu dari desa ini yang terpencil??" saran seorang yang mirip Buto Cakil membuat Sang Gadis Kecil sedikit tersenyum.
"Betul itu!! Aku baru saja ingin mengusulkan padamu Cil.. Tapi sudah keduluan deh..Hhe" tanpa angin tanpa hujan, seorang Kerdil muncul dari sisi kanan Taman kecil itu.
"Ah.. kamu ikut²an ajja!! Tapi.. Emang menurutku Lebih baik begitu Cil.. setidaknya kamu gag nyusahin Nenek kamu di rumah tuu.. Ntar biar Nenek kamu dijagain samma tetangga² yang lain.. Mau gag? Ntar aku sama si raksasa ini bantuin kamu deh.. Gimana?" Si Kerdil berkata panjang dengan semangat diikuti dengan anggukan seorang yang mirip Buto Cakil.
"Betul itu Cil.. Ntar kita bantuin deh.. Oke?" seorang mirip Buto Cakil itu meyakinkan Sang Gadis Kecil.
"Hmmm.. Iya deh, sekarang yuk.. Ikut aku ke rumah Nenekku" ajak Sang Gadis Kecil pada Si Kerdil dan seorang yang mirip Buto Cakil setelah menyetujui saran dari mereka.
***
Sesampainya di rumah Nenek dari Sang Gadis Kecil, ditemuinya sang Nenek sedang asyik mengupil sambil makan buntil. Pemandangan itu tak pelak membuat Sang Gadis Kecil malu kepada Si Kerdil dan seorang yang mirip Buto Cakil karena mereka berdua ikut melihatnya.
"Neneeeeeeeekkk!! Kan udah aku bilangin, jangan makan buntil sambil ngupil! Ntar nenek kebalik malah mbuntil sambil makan upil [megsoo] kan aku yang susaaahh..." Sang Gadis Kecil berteriak pada neneknya yang masih belum sadar akan kehadiran ketiga makhluk itu di rumahnya.
"Eh..kamu.. Maav.. abis nenek suka sih makan buntil sambil ngupil.. bikin tambah enyaaakk.. nyaammm" Nenek menjawab asal sambil melanjutkan kegiatan makan buntiLnya sambil ngupil.
"Ah udahlah.. terserah nenek.. Aku mau pamit sama nenek! Aku mau pergi adja dari desa ini yang terpencil [kembali megsoo]!!!" Sang Gadis Kecil mengungkapkan apa yang menjadi niatnya pada Nenek sembari membereskan baju²nya yang keciL² ke dalam Tas kecil dan menjeLaskan panjang Lebar tentang apa yang menjadi alasannya.
"Ya sudah kalau gitu.. Nenek cumman pesen : kamu jaga diri kamu baik².. Kalo sewaktu² kamu pengen pulang kesini, puLang aja, tapi jangan Lupa bawain Nenek oLeh² yaa.." Nenek berpesan pada Sang Gadis kecil yang baru saja selesai mencium tangan kanan Nenek, berpamitan.
***
Seorang yang mirip Buto Cakil dan si Kerdil mengantarkan Sang Gadis Kecil sampai perbatasan Desa Terpencil.
"Cil.. maavin aku ya, aku gag bisa nemenin kamu pergi dari desa terpencil ini, aku masih punya adik yang kecil².. takutnya mereka pada ngintil.. maavin aku ya.." seorang yang mirip Buto Cakil itu meminta maav pada Sang Gadis Kecil dan memeluknya dengan penuh haru.
"Aku jugag minta maav yah Cil.. Aku gag bisa ikut kamuu.. Pacarku si Kerdil Mungil gag mau jauh² dari aku.. Maavin aku yah, Cil.. Ini aku ada sesuatu buat kamu.. Mudah²an bisa kamu manfaatin sesampainya kamu di tempatmu nanti yang baru.." Si Kerdil yang sama² pendek memasukkan bungkusan kecil ke dalam tas kecil Sang Gadis Kecil.
***
Sesampainya Sang Gadis Kecil di sebuah Kota, mimik wajahnya tampak sumringah melihat banyak bunga Bugenvil yang adda di sekitaran Kota itu.
"Mungkin ini Kota Bugenvil.. Hmmm.. BUnganya bagusss.." Gumam Sang Gadis Kecil itu sendiri.
Tak terasa dia sudah menghabiskan waktunya di perjalanan semalaman dan berhentilah dia di depan sebuah toko Roti Kecil [yang di Bogor banyak disebut dengan Roti Unyil..hhoo]. Dia merasakan lapar yang sangat, membuatnya berusaha mencari uang di dalam tas kecil yang ada di balik punggungnya.
Tak beruntuk Sang Gadis Kecil, ia Lupa kalau sebelum kepergiannya dari Desa Terpencil itu sang Nenek meminta seluruh uang Sang Gadis Kecil. Kehabisan akal, membuatnya terduduk lemas di depan Toko Roti Kecil itu dengan barang²nya yang sedikit berserakan keluar dari tas kecil.
Seorang Tua mendatanginya..
"Hei Gadis Kecil, kamu Lapar ya? Aku mau memberimu roti dari tokoku, tetapi kamu harus menukarnya dengan barangmu.. Bagaimana?" Ternyata eh ternyata seorang Tua itu adalah pemilik Toko Roti Kecil yang sedang ia belakangi.
Belum sempat Gadis Kecil itu menjawab seorang Tua yang baru saja menawarkan makanan padanya, Seorang Tua itu melihat bungkusan hitam yang berserak keluar dari tas kecil milik Sang Gadis Kecil.
"Appa ini? Hahh?? KOrek Kuping?? Akhirnya ada juga yang membawa barang ini padaku.. Sudah lama aku menantikan Korek kuping ini.. Bagaimana kalau kamu berikan aku lima batang korek kuping untuk dua buah roti.. Kamu setuju?" Kalimat seorang tua itu membuahkan senyuman Lebar Sang Gadis Kecil dan hanya mampu mengangguk setuju.
"Baiklah kalau begitu.. MMmmm.. Bagaimana kalau aku memanggiLmu Gadis Korek Kuping sajja?" seorang Tua itu kembali bertanya pada Sang Gadis Kecil dan kembali dijawabnya dengan anggukan kepala tanda setuju.
Setiap Korrek kuping itu diambil dalam jumlah 5 batang, akan muncul lagi korek kuping sebanyak 2x Lipat, membuat korek kupingnya tidak pernah habis.
Dan akhirnya, sejak saat itu, Sang Gadis Kecil dipanggil dengan sebutan Gadis Korek Kuping di kota itu..

Bergesernya Nilai - Nilai Pesantren


Santri adalah kata yang selalu melekat pada pondok pesantren yang mempunyai ulasan arti “san” insan dan “iri” yang mempunyai unsur yaitu temen,titen dan tanggung jawab,namun kita tidak pernah sadar akan jati diri kita sebagai santri yang akan menjadi obat di masyarakat nantinya.

Sebenarnya setiap manusia baik santri atau bukan mestinya punya satu hal yang harus dperjuangkan yaitu menyeimbangkan antara kemajuan spiritual dan intelektual.Tetapi kenyataannya kita lebih banyak mengejar sesuatu yang praktis baik dari sisi keilmuan maupun pengalaman.Dunia pendidikan kita saat ini lebih cenderung menitik beratkan pada kedisplinan formalitas dari pada melatis untuk mempunyai rasa tanggung jawab.Seumpama anak di tuntut untuk disiplin tapi disisi lain anak kurang dididik untuk memahami manfaatnya sehingga doktrin yang ditanamkan hanyalah rasa takut kepada guru atau lembaga,bukan rasa cinta,hormat dan ta’dzim.

Seorang santri perlu belajar menjadi santri, karena menjadi santri bukanlah sekedar identitas diri kita yang mana apa yang kita lakukan nanti akan berakibat pada yang lainnya.Dan yang harus kita lakukan:

  • Perlu belajar untuk menata perilaku ketika melakukan sesuatu tata krama itu bukan hanya sekedar formalitas belaka tapi lebih kepada penghayatan.

  • Berapa besar rasa tawadhu santri bukan berapa besar rasa takut santri.

  • Tata kembali niat mondok.


By :

Laep’s cute




































Selasa, 09 Juni 2009

Pagi Mendung,


Kini tiba saatnya kumencari waktu.Akhir tahun yang membuatku harus menutup telinga.Disaat hatiku rapuh,disaat itu juga aku harus menjadi tegar.Bolehkah kumenangisi di pangkuan tuhan?

Bila air mataku mengalir,maka aku akan tertawa.Penyiksaan batin yang tak terperikan.Biarkan hati mati dalam pelukan cinta.Saksikan rindu memeluk air mata.Jiwa yang kerdil kini semakin pucat ditangan takdir.

Mengingat senyuman dari bibir Maryam.Mendengar tawa dari bibir Adam.

Tak membuatku lelah walau harus terus mendaki bukit yang teramat curam.

Biar saja aku jatuh.Aku tak peduli lagi kanan dan kiri,biar saja aku rapuh.Aku tak mau tahu lagi jeritan hati yang meronta.Aku hanya ingin menyambutnya.Sambil senyuman, merangkut kebahagiaan.

Kurasa tak perlu lagi menatap luka.Dan biarkan perih pergi tanpa ku mau peduli.Yang berlalu biarlah berlalu,sambut yang baru untuk hatiku yang kini mulai bersalju.


By :

Laep’s cute